Konflik Agama

 

KONFLIK ANTAR AGAMA

Agama sebenarnya memiliki dua peran, yaitu agama sebagai jalan spiritual dan sebagai institusi. Fungsi yang pertama sangat erat kaitannya dengan hubungan individu terhadap Tuhan (hubungan personal) sedangkan fungsi yang kedua lebih menekankan kepada fungsi sosial kemasyarakatan. Konflik antar agama muncul dari fungsi yang kedua ini. Sebuah lembaga agama selalu berkaitan dengan serangkaian perangkat, entah itu manusia, dana, gedung, maupun misi, yang bertujuan untuk melanggengkan agama yang bersangkutan. Lembaga agama berusaha menambah jumlah pengikut dan memperkuat pengaruhnya dengan menggunakan segala cara sampai ke wilayah-wilayah tertentu yang rawan terjadi konflik. Konflik inilah yang selama ini terjadi di beberapa belahan bumi nusantara. Telah banyak kasus yang memberi kita pelajaran berharga, kasus Ambon misalnya. Persengketaan agama lebih disebabkan oleh adanya persoalan sosial-ekonomi-politik ketimbang masalah teologis.
Amerika – Irak, sebuah dongeng klasik tentang “warisan” dendam bapak – anak, memicu reaksi masyarakat dunia. Perang Teluk yang telah berlalu lebih dari sepuluh tahun silam agaknya bakal terulang kembali. Perang Teluk menyebabkan hubungan Kristen (dan Yahudi) dengan Islam, yang sudah dari sononya penuh dengan pertikaian, menjadi lebih suram. Perang yang dipicu oleh kepentingan politik tersebut agaknya juga diboncengi oleh kepentingan agama. Hal ini tampak jelas di kalangan Islam bahwasanya ancaman terhadap salah satu negara Islam merupakan ancaman pula bagi negara Islam lainnya, tak ayal timbul jargon “perang melawan Irak berarti perang melawan Islam.”
Hindu sebagai salah satu agama besar dunia, saat ini berada diantara agama-agama lain yang tengah didera konflik berkepanjangan. Dan sepanjang sejarah peradaban manusia, Hindu telah bersentuhan dengan agama-agama lain secara damai.

Perjumpaan agama Hindu dengan Islam

Orang-orang Arab mengunjungi India jauh sebelum kelahiran Muhammad. Dan komunitas-komunitas kecil Muslim yang hidup di pesisir rupanya sudah ada sejak abad kedelapan masehi[1]. Perlu dicatat bahwa kebanyakan sejarawan Arab awal memuji prestasi-prestasi intelektual umat Hindu, tetapi ulama sesudahnya memusuhi mereka dan sering menghukum mereka sebagai kafir[2]. Adanya perbedaan sikap tersebut disebabkan oleh adanya kepentingan ekonomi-sosial-politik. Sejarawan Arab awal memuji India dengan segala aspeknya karena mereka merasa banyak belajar dalam usaha mengembangkan kebudayaannya, lagipula saat itu prestasi intelektual bangsa Arab lebih rendah daripada bangsa Hindu India. Tetapi sikap itu berubah ketika para bangsawan Muslim Asia Tengah merangkul para ulama untuk bersaing dalam kancah politik dengan para bangsawan Hindu.

Perjumpaan agama Hindu dengan Kristen

Perjumpaan kedua agama tersebut diawali oleh ekspansi bangsa Eropa, Inggris dan Portugis, ke wilayah India dalam rangka kolonialisasi. Saat bangsa Eropa tersebut berkuasa, mereka berusaha mempelajari filsafat dan kesusastraan India untuk menjatuhkan secara teologis dan mengkonversikan orang-orang India agar menjadi Kristen. Namun agaknya hal tersebut justru membuat kebangkitan kembali agama Hindu. Dari sini kelak timbul para pembaharu pemikiran Hindu diantaranya adalah Rammmohun Roy, Chundar Sen, dan Dayananda Sarasvati. Pembaruan pemikiran Hindu diawali dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan3, dari sini jalan interaksi pemikiran barat, yang lebih rasionalistik, mulai merasuk ke dalam jaring-jaring kebijakan timur yang lebih bersifat intuitif. Masuknya pemikiran barat tersebut menghasilkan beberapa pembaharuan praktek keagamaan, misal mereformasi cara penyembahan Tuhan, penghormatan terhadap wanita dan studi Weda yang dapat diakses oleh siapa saja.

Peran Umat Hindu

Ibarat sebuah pertandingan maka agar berjalan dengan baik diperlukan seorang wasit. Dari sinilah sebenarnya umat Hindu dapat mengambil peran sebgai fasilitator maupun mediator diantara para penganut agama yang berkonflik. Secara historis dan teologis, Hindu tidak pernah punya catatan konflik dengan Islam, Kristen maupun Yahudi. Peran netral inilah sebaiknya yang harus kita perhatikan. Namun, sayangnya belum banyak para aktivis (mahasiswa dan birokrat) kita yang melihat peluang ini. Acara-acara bertajuk dialog antar agama maupun forum-forum antar agama selalu saja diprakarsai oleh mereka yang berkonflik. Kalaupun ada wakil Hindu lebih banyak duduk sebagai pelengkap saja. Seharusnya ciri khas Hindu yang bersikap toleran membuat kita kritis alam mensikapi fenomena sekitar. Kita harus memberikan contoh pada mereka bahwa “Hinduisme berpegang teguh bahwa tak ada jalan pembebasan yang tak dapat dihitung. Ia tak akan pernah mengharapkan pengikutnya menjadi sanggup mendekati Tuhan dengan cara yang sama, namun ia memberikan konsep-konsep, ritual-ritual, dan latihan-latihan spiritual yang berbeda untuk modus-modus kesadaran yang berbeda. Dari sikap inilah datanglah toleransi dan inklusivitas yang merupakan karateristik Hinduisme.”

 

http://www.google.com

 

Nama   : Wisnu Ardiansyah

Kelas    : 1 KA 31

NPM    : 18110552

Tentang wisnu ardiansyah

enjoy
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s